Monday, November 30, 2009

Talmud : Kitab Setan Zionis Yahudi

Dzabur diturunkan kepada Daud AS, Taurat diturunkan kepada Musa AS, Injil diturunkan kepada Isa AS dan yang terakhir adalah Al Quran yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Talmud sama sekali tidak kita kenal sebagai salah satu kitab agama samawi (agama langit yang berbasiskan wahyu yaitu Yahudi, Kristen dan Islam), namun kenyataannya bani Israel/ Yahudi menganggap talmud sebagai kitab paling suci bagi mereka. Darimanakah asal Talmud dan bagaimana isinya?.
Taurat merupakan kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Musa AS untuk menuntun kaum Israel agar kembali ke jalan yang lurus, namun seperti biasanya, mereka lebih suka memilih jalan kesesatan. Mereka menentang dan menolak ajakan Musa AS untuk menyembah Tuhan yang satu dan lebih memilih menyembah patung sapi betina. Memang seperti inilah sifat asli bangsa Yahudi yang selalu membangkang dari ajaran tuhan, oleh karena itu pula Allah selalu mengirim utusan berupa nabi-nabi yang banyak jumlahnya kepada Kaum Yahudi, bisa dikatakan nabi-nabi yang kita kenal mayoritas diturunkan untuk kelompok-kelompok itu saja (Yahudi). Musa AS, Yaqub AS, Ishak AS, Yusuf AS, Isa AS, Harun AS, Zakariya AS, Yahya AS dll. Lebih parahnya lagi, kaum Yahudi ini juga disebut sebagai bangsa pembunuh nabi, Zakariya dan Yahya AS dibunuh oleh mereka dan Isa AS juga diklaim telah dibunuh oleh kaum Yahudi dengan cara disalib.
Taurat (Torah) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Musa AS mereka anggap tidak lengkap, oleh karena itu perlu direvisi dan dibuat sebuah kitab suci lagi yang lengkap memuat perintah tuhan kepada bangsa Yahudi. Isi Taurat pun akhirnya banyak mengalami reduksi disana sini serta lahirlah kitab Talmud yang merupakan hasil pemikiran para Rabbi (sebutan kepada pendeta Yahudi) dan tokoh-tokoh Yahudi.
Guru besar Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Darul `Ulum Kairo, Prof. Ahmad Syalabi menulis, “Taurat bukanlah satu-satunya kitab suci bagi bangsa Yahudi, tetapi ada riwayat-riwayat lain yang disampaikan dan dibawa oleh para pendeta Yahudi secara turun temurun. Riwayat-riwayat inilah yang kemudian dikenal dengan Talmud.” (Muqaranatul Adyan: Al-Yahudiyah, 1990).
Pakar peneliti Talmud menyatakan bahwa kaum Yahudi meyakini bahwa Talmud lebih suci daripada Taurat, bahkan seorang ahli Talmud dengan tegas menyatakan bahwa seluruh bagian dari Talmud merupakan pengingkaran terhadap Taurat Musa. Zionis-Yahudi sangat yakin bahwa Talmud merupakan firman langsung dari Tuhan Yahweh kepada Musa. Mereka meyakini jika Tuhan Yahweh mengalami kesulitan dalam sesuatu hal atau urusan, maka Tuhan Yahweh akan berkonsultasi dengan para Rabbi Yahudi, bukan dengan Musa. Sebab itu kedudukan Rabbi Yahudi lebih otoritatif dan lebih mulia ketimbang Musa AS. Banyak orang yang salah menyangka bahwa Taurat dan Talmud merupakan kitab yang sama, namun Talmud telah mengalami perubahan disana-sini dari bentuk aslinya Taurat. Taurat dan Talmud sejatinya adalah dua kitab yang berbeda sama sekali, Taurat diturunkan kepada nabi Musa AS sedangkan Talmud merupakan ciptaan manusia-manusia kaum Yahudi yang keji.
Isi dari Talmud sangat provokatif dan berisi ajaran kepada keburukan yang sama sekali tidak bermoral, berikut beberapa kutipan isi Talmud yang isinya sangat mengejutkan namun dijadikan bacaan wajib bagi kaum Yahudi.
1. “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non-Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b)
2. “Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)
3. “Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)
4. “Terhadap orang non Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Hukuman bagi orang Yahudi adalah bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu istri seorang Yahudi. Istri non-Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)
5. “Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipu orang-orang non -Yahudi”. (Zohar I, 168a)
6. “Tanah orang non-Yahudi adalah kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya”. (Babba Bathra 54b)
7. “Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)
8. “Orang Yahudi boleh mempraktekkan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)
9. “Ketika Messiah (Raja Tahudi terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi”. (Erubin)
Sangat banyak doktrin yang menyesatkan terdapat di dalam Talmud yang ditujukan untuk kepentingan Zionis. Di dalam kitab Talmud tersebut selalu saja mengagung-agungkan ras Yahudi dan menganggap non-Yahudi yang sering disebut Gentile atau Goyim, bahkan lebih rendah daripada babi. Bila kitab Talmud ini yang menjadi kitab suci kaum Yahudi, maka tak heran bila kita amati di seluruh dunia bahwa Yahudi selalu membawa bencana dan kerusakan di muka bumi. Campaign penguasaan terhadap dunia oleh Zionis-Israel pun didasari dari ayat-ayat Talmud. Penyerangan terhadap kota Gaza, Palestina yang dilancarkan pada akhir desember 2008 pun merupakan hasil dari doktrin-doktrin Zionis yang berasal dari Talmud.
Mungkin kenyataan ini mengejutkan sebagian dari kita yang belum pernah mengetahui tentang keberadaan kitab setan Talmud yang digunakan sebagai doktrin Zionis. Namun hal ini telah diramalkan dan disebutkan oleh Al-Quran (QS. Ali Imran:78)
“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan orang yang memutar-mutar lidahnya membaca al-kitab, agar kamu menyangka bahwa yang dibacanya itu adalah sebagian dari al-kitab, padahal ia bukan dari al-kitab, dan mereka juga mengatakan, “ia (yang dibaca itu datang) adalah dari Allah,” padahal ia bukanlah dari sisi Allah. Mereka telah berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.”

Ada yang menarik dari surat Ali Imran ini, perlu highlight pada kata “sedang mereka mengetahui”. Artinya kaum Yahudi itu sendiri mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan dan penyimpangan, namun perlu diingat sekali lagi bahwa pada kodratnya bangsa ini memang sifatnya pembangkang dan sangat angkuh, bahkan berani menentang penciptanya sendiri dengan cara memalsukan firman Tuhan dan membuat kitab tandingan.

Mengusap Wajah setelah Berdoa



Hukum Mengusap Wajah Setelah Doa
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin Khottob bahwa Rasulullah saw apabila mengangkat kedua tangannya saat berdoa maka beliau tidaklah meletakkan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.”
Kalimat “hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.”, Ibnul Malak mengatakan kalimat ini merupakan sebuah perasaan optimis, seakan-akan pada kedua telapak tangannya penuh dengan berbagai keberkahan dari langit dan nur ilahi. Didalam kitab “as Subul” disebutkan bahwa hadits ini merupakan dalil disyariatkannya mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa. ..
Al Hafizh Ibnu Hajar didalam “Bulughul Murom” mengatakan bahwa hadits ini memiliki banyak penguatan diantaranya dari Abu Daud dari hadits Ibnu Abbas, dan juga dari yang lainnya dan keseluruhannya menjadikan hadits ini hasan. (Tuhafatul Ahwadzi juz VIII hal 284)
Ada juga dari para ulama yang mengatakan bahwa hadits Umar tersebut adalah lemah diantara ulama yang mengatakan hal itu adalah al Hafizh al Iroqi.
Dengan demikian sebaiknya kita tidak mengingkari setiap orang yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah berdoa maupun orang yang tidak mengusap wajahnya dengan keduanya.
Hukum Mengangkat Tangan Setelah Salam
Al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiah wa al Ifta’ didalam fatwanya no. 5779 menyebutkan bahwa tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah salam (shalat). Kami tidak mengetahui terdapat riwayat dari Nabi saw baik yang berupa perkataan maupun perbuatan. Kami juga tidak mengetahui tentang hal itu dari para sahabat ra. Kebaikan adalah mengikuti (sunnah) dan keburukan adalah melakukan perbuatan bid’ah.
Wallahu A’lamwww.eramuslim.com

Hukum Mengusap Wajah Setelah Doa

Hukum Mengusap Wajah Setelah Doa
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin Khottob bahwa Rasulullah saw apabila mengangkat kedua tangannya saat berdoa maka beliau tidaklah meletakkan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.”
Kalimat “hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.”, Ibnul Malak mengatakan kalimat ini merupakan sebuah perasaan optimis, seakan-akan pada kedua telapak tangannya penuh dengan berbagai keberkahan dari langit dan nur ilahi. Didalam kitab “as Subul” disebutkan bahwa hadits ini merupakan dalil disyariatkannya mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa. ..
Al Hafizh Ibnu Hajar didalam “Bulughul Murom” mengatakan bahwa hadits ini memiliki banyak penguatan diantaranya dari Abu Daud dari hadits Ibnu Abbas, dan juga dari yang lainnya dan keseluruhannya menjadikan hadits ini hasan. (Tuhafatul Ahwadzi juz VIII hal 284)
Ada juga dari para ulama yang mengatakan bahwa hadits Umar tersebut adalah lemah diantara ulama yang mengatakan hal itu adalah al Hafizh al Iroqi.
Dengan demikian sebaiknya kita tidak mengingkari setiap orang yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya setelah berdoa maupun orang yang tidak mengusap wajahnya dengan keduanya.
Hukum Mengangkat Tangan Setelah Salam
Al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiah wa al Ifta’ didalam fatwanya no. 5779 menyebutkan bahwa tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah salam (shalat). Kami tidak mengetahui terdapat riwayat dari Nabi saw baik yang berupa perkataan maupun perbuatan. Kami juga tidak mengetahui tentang hal itu dari para sahabat ra. Kebaikan adalah mengikuti (sunnah) dan keburukan adalah melakukan perbuatan bid’ah.
Wallahu A’lam

Thursday, November 26, 2009

Sulaiman Castro: Karena Islam Mengajarkan Kasih Sayang untuk Seluruh Umat Manusia

www.eramuslim.com
Rafael Castro, lahir dari keluarga Italia yang menganut agama Katolik yang cukup taat. Seperti penganut Katolik lainnya, sejak kecil Castro menjalani proses pembaptisan, komuni dan diwajibkan ikut dalam sekolah minggu. Ketika itu merasa nyaman menjalami kehidupan religinya.
Semuanya berubah ketika Castro berusia 12 tahun. Sang ibu yang tadinya rajin membawanya ke misa-misa keagamaan, tiba-tiba saja berubah 180 derajat. Ibu Castro yang sebelumnya menjadi pelayan gereja dan mengajari Castro ajaran Katolik menghentikan aktivitasnya dan melepas Castro untuk belajar sendiri dan memilih agam yang ingin dianutnya.
Perubahan yang tiba-tiba itu mengguncang psikologis Castro yang ketika itu beranjak remaja. Ia merasa kecewa dengan ibunya dan kepada Tuhan. "Bagaimana bisa Tuhan memberi saya keluarga yang mengajarkan agama yang dianut karena tradisi dan bukan karena terinspirasi dengan agama itu?" tanya Castro.
Menurutnya, sejak itu ia berhenti ke gereja, tidak percaya lagi dengan agama Katolik yang dianutnya dan mulai melupakan Tuhan. Saat itu, usia Castro baru 14 tahun.
Memasuki jenjang sekolah menengah atas, Castro mulai terusik dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu hatinya. Setelah beberapa tahun melupakan Tuhan dan agamanya, Castro merasa tidak sanggup hidup tanpa keyakinan bahwa Tuhan itu ada.
"Seiring dengan pertambahan usia, saya makin dewasa dan menyadari bahwa hidup akan bermakna jika ada nilai lebih dalam setiap perbuatan yang dilakukan. Saya percaya ada Tuhan yang memberikan inspirasi bagi setiap aspek kehidupan yang terjadi," ujar Castro.
Pertanyaan sekarang, kemana ia harus mencari Tuhan, karena sudah lama Castro tidak lagi mempercayai agama Katolik yang dianutnya sejak kecil. Di sekolah, Castro punya seorang teman yang baik asal Indonesia. Temannya itu sering meminjamkan Al-Quran pada Castro. Tapi Castro belum terbuka hatinya, usia remaja yang masih labil membuatnya bersikap bias terhadap ajaran agama, termasuk agama Islam.
Ketika Castro mulai kuliah pada usia 18 tahun, ia malah tertarik mempelajari agama Yahudi. Castro menganggap Yudaisme sebagai agama monotheis yang sebenarnya, berbeda dengan ajaran Katolik yang sudah tidak diyakininya lagi.
"Saya belajar Yudaisme sekitar 7 tahun, bahkan mendaftarkan diri ke Yeshiva. Yeshiva adalah sekolah kerabbian dimana para siswanya harus mengenakan pakaian tradiosional Yahudi berwarna hitam, topi hitam dan jam belajarnya sangat panjang. Saya menyukai konsep belajar yang kaku di sekolah itu dan polemik yang jumpai dalam konsep kerabbian," aku Castro mengenang pengalamannya di Yeshiva.
Saat itu, Castro masih beranggapan bahwa Islam adalah agama yang membuat para penganutnya terbelakang dan menyukai kekerasan. Tapi pandangan-pandangan itu mulai luntur ketika Castro menonton beberapa film produksi Iran. Salah satu film yang ia tonton berjudul "The Colours of Paradise." Dari film itu Ia melihat bahwa Islam memiliki pandangan-pandangan yang luas dan sangat menghormati kemuliaan umat manusia.
"Saat ini, negara-negara Muslim mungkin tidak terlalu gemilang dalam sektor perekonomian atau kemiliteran. Tapi Islam lebih terdepan dalam masalah penghormatan terhadap martabat manusia dan pengorbanan diri sendiri untuk kepentingan umat yang lebih besar dibandingkan dengan negara-negara non-Muslim," imbuh Castro.
Dari pengetahuan itu, Castro mulai menyadari ada perbedaan besar antara Yudaisme yang dipelajarinya dengan Islam. "Yudaisme mengajarkan kasih sayang hanya untuk orang-orang Yahudi saja, sedangkan Islam mengajarkan kasih sayang untuk seluruh umat manusia, semua orang bisa menjadi seorang Muslim tanpa melihat latar belakang nenek moyang mereka. Dan ini terlihat jelas oleh sikap yang hangat dan keramahan yang bisa ditemui setiap orang jika datang ke masjid-masjid," tukas Castro.
Tapi yang paling menggerakkan hati Castro pada Islam adalah isi surat Al-Baqarah yang menurutnya sangat indah dan mengajarkan hal-hal yang sangat mulia. "Saya pikir, setiap orang membaca surat itu secara jujur mengakui bahwa hanya malaikat yang mampu memberikan inspirasi tentang pernyataan-pernyataan yang begitu indah yang berasal dari Tuhan," sambung Castro.
Castro dengan keyakinan penuh pada Islam, meninggalkan studi agama Yahudinya dan memilih masuk Islam. Setelah mengucapkan syahadat, ia memilih "Sulaiman" untuk namanya, sehingga nama lengkap Castro menjadi Rafael Sulaiman Castro untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah menjadi seorang Muslim.
"Terima kasih untuk Islam yang telah mengubah hidup saya. Sebelum memeluk Islam, saya biasa tidur sampai siang setiap saya punya kesempatan untuk melakukannya. Sekarang, saya jadi terbiasa bangun pagi karena harus salat Subuh dan melakukan aktivitas lainnya setelahnya, sehingga hidup saya jadi lebih produktif," tutur Sulaiman Castro.
"Saya yakin Islam telah memberikan kehidupan baru buat saya, membuat saya lebih menghargai diri sendiri dan membuat saya bersikap lebih baik pada orang lain. Tiga hal yang sulit saya temukan di manapun. Setelah dua bulan memeluk Islam, saya mulai memahami bahwa Islam mengajarkan kita untuk menaklukkan hawa nafsu dengan berserah diri pada Allah Swt. Itulah kebenaran yang sejati," lanjut Castro.
Castro mengakui, keputusannya masuk Islam bukan tanpa pengorbanan. Ia harus kehilangan banyak teman, termasuk sikap keluarganya yang tidak bersahabat.
"Tapi akhirnya, keluarga saya mulai menerima keputusan saya dan saya juga mendapatkan teman-teman baru dari kalangan Muslim yang sangat membantu saya di masa-masa transisi," kata Castro.
"Saya memiliki pandangan-pandangan baru tentang hidup. Islam telah memberi kesempatan saya untuk memeluk Islam dan sebuah pengalaman hidup yang sangat berharga," tandas Castro menutup pembicaraan.

Tarik Preston: Namaku Membawaku ke Islam



Cerita Tarik Preston masuk Islam tergolong unik. Ia bersyahadat pada tahun 1988 dalam usia yang relatif masih muda, 19 tahun. Menurut Tarik, perjalanannya menjadi seorang muslim bukan cerita yang panjang, tapi perjalanan bagaimana Allah Swt terus menuntunnya menjadi seorang muslim setelah masuk Islam, justeru menjadi kisah-kisah yang penuh inspirasi buatnya.
Semuanya berawal dari namanya yang berbau nama Islam, yaitu Tarik, meski ia seorang non-Muslim. "Saya diberi nama Tarik sejak lahir. Di era tahun 60-an, 70-an bahkan 80-an menjadi hal yang biasa bagi para orangtua di Amerika memberi nama anaknya dengan nama khas Afrika. Dalam banyak kasus, mereka memilih nama Afrika yang sebenarnya nama islami dan itulah yang terjadi pada saya," tutur Preston.
Sebelum menjadi muslim, ia sering bertemu dengan orang yang juga bernama Tarik atau orang yang paham makna nama Tarik. Orang-orang itu, kata Preston, akan bertanya "kamu tahu apa arti namamu?". Ketika itu Tarik dengan bangga menjawab arti namanya seperti yang diceritakan kedua orangtuanya, "bintang yang menyebarkan cahaya terang". Setelah menjadi seorang muslim, Preston kadang menambahkan cerita dibalik namanya dengan kisah Tariq bin Ziyad. tokoh muslim yang berhasil menaklukan Spanyol.
Tarik Preston memilih jurusan biologi saat sekolah menengah karena ia bercita-cita ingin menjadi dokter. Dan di tahun-tahun pertama menjadi mahasiswa kedokteran, ia mulai membaca Alkitab, tapi ia menemukan ajaran-ajaran Kristen yang menurutnya tidak masuk akal.
Saat liburan musim semi, Preston berdiskusi dengan neneknya tentang teologi. Meski seorang Kristiani, pernyataan neneknya membuat Preston takjub. "Dia bilang, 'aku menyembah tuhan dan bukan menyembah Yesus, karena aku merasa lebih aman menyembah tuhan'," ujar Preston menirukan pernyataan neneknya. Sejak kecil Preston memang dekat dengan neneknya itu.
Sejak perbincangan itu, kata Preston, kebiasaannya berdoa setiap malam tidak lagi dilakukan atas nama Yesus, tapi ia memanjatkan doannya langsung atas nama tuhan.
Suatu hari, Preston sedang berjalan menuju kampus ketika berjumpa dengan seorang juniornya yang ia tahu sudah memeluk agama Islam. Juniornya itu menyapa Preston dengan ucapa "assalamua'alaikum". Bagi Preston yang tumbuh dewasa di kawasan Chicago di era tahun 70-an, kata "assalamua'alaikum" bukan kata yang asing buatnya. Maka ia menjawab salam itu dengan ucapan "wa'alaikumsalam".
Juniornya itu kemudian bertanya apakah Preston seorang Muslim. Ia menjawab "bukan" dan mengatakan bahwa ia seorang penganut 'persekutuan metodis". Dan juniornya berkata, "Oh! saya kira kamu seorang muslim karena namamu Tarik."
Tak lama setelah pertemuan itu. Preston berjumpa lagi dengan juniornya itu di satu mata kuliah dan ia berusaha menjelaskan tentang Islam pada Preston dan beberapa teman sekelas. "Dia masih sangat muda dan baru sedikit tahu tentang Islam. Tapi ia memperingatkan kami tentang bahayanya menyembah Yesus," tutur Preston mengingat perbincangan itu.
Musim panas pun tiba. Preston mengisi liburan dengan bekerja sebagai telemarketer dimana ia bertemu dengan seorang muslim bernama Ahmed. Ahmed juga seorang mualaf asal Puerto Rico. Pertama kali bertemu, Preston bertanya pada Ahmed, "Apakah kamu seorang muslim?"
Ahmed menjawab, "Ya, Tarik. Kamu?
"Saya bukan muslim. Saya penganut persekutuan metodis," ujar Preston.
Ahmed tersenyum dan berkata,"Dengan nama Tarik, kamu seharusnya seorang muslim."
Dan selanjutnya, dari Ahmed, Preston tahu tentang apa itu agama tauhid dan Preston mengaku terkesan dengan konsep Islam tentang keesaan Tuhan. Suatu ketika saat diundang ke rumah Ahmed, Preston kagum melihat betapa Ahmed sangat memuliakan kitab suci Al-Quran dan Preston bertanya apakah ia boleh meminjam Al-Quran itu.
Ahmed awalnya terlihat enggan dan beralasan bahwa ia cuma punya satu Al-Quran. Tapi Ahmed akhirnya mengijinkan dengan permintaan agar Preston benar-benar menghormati Al-Quran, menjaganya agar tetap bersih dan disimpan ditempat yang layak.
"Saya tidak sabar ingin segera membaca Al-Quran itu," imbuh Preston.
Dua minggu kemudian, Preston mengundang Ahmed ke rumahnya dan kembali berdiskusi tentang Islam. Saat itu Preston mengatakan pada Ahmed bahwa ia meyakini Al-Quran sebagai kebenaran dan ia ingin menjadi seorang muslim.
Akhirnya, keesokan harinya, Preston dan Ahmed berangkat ke Islamic Center di Washington D.C. Di sanalah, Preston mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim.
Berkat rahmat Allah Swt, beberapa tahun kemudian, Preston mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang Islam di Universitas Islam di kota Madinah, Arab Saudi dimana ia mendapatkan gelar sarjana di bidang bahasa Arab dan ilmu hadist.
"Saya berharap, cerita bagaimana saya memeluk Islam bisa mendorong non-muslim lainnya untuk hijrah ke agama Islam. Saya juga berharap kisah saya ini mendorong saudara-saudara saya sesama muslim untuk terus menyebarkan kebenaran pesan-pesan Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan," tukas Tarik Preston menutup kisahnya.www,eramuslim.com

Hari Jilbab Merah Jambu: Muslimah Peduli Kanker Payudara


www.eramuslim.com
Dalam upaya penyebarkan kesadaran komunal untuk melawan kanker payudara, sekelompok perempuan muslim muncul dengan gagasan Pink Hijab Day (PHD). "Pink Hijab Day dimaksudkan untuk meruntuhkan stereotip perempuan muslim, serta meningkatkan kesadaran dan mengumpulkan dana untuk penelitian kanker payudara. Gerakan yang bermula di Amerika Serikat ini, sekarang sudah menyebar di negara lainnya seperti Kanada, Mesir, Qatar, Trinidad, dan Afrika Selatan. Semua umat Islam di seluruh dunia dapat berpartisipasi dengan mengenakan jilbab merah muda, pita merah jambu, dan menyumbang ke yayasan kanker payudara," ini misi kampanye sebagaimana dimaksud pada situs resminya. Tahun ini PHD akan dilaksanakan pada 28 Oktober mendatang.
Mengapa Jilbab Merah Jambu
Menurut El-buri, pendiri PHD, kegiatan yang telah dirintis beberapa tahun yang lalu ini adalah sebagai cara bagi perempuan muslim untuk memulai dialog dengan non-Muslim yang mungkin akan melihat sekelompok wanita di jilbab merah muda dan didorong untuk bertanya tentang Muslim sebagai aktivis sosial, tentang jilbab, atau tentang Islam secara umum. Perempuan Muslim memakai iman mereka di kepala mereka. Di Barat, ini adalah sesuatu yang sudah mendapatkan banyak perhatian dan tatapan.
Adapun mengapa merah muda, itu adalah warna kesadaran kanker payudara (pita merah). Masuk akal untuk menggunakan pink untuk warna jilbab dalam kampanye PHD. Namun wanita yang berpartisipasi dalam march bisa memilih warna warna untuk dipakai, jika mereka menganggap mengenakan jilbab merah muda berada di luar batas-batas kesopanan mereka, sehingga mengenakan pita merah muda baik-baik saja. Yang paling utama adalah membantu mereka berbagi kesadaran tentang bahaya kanker payudara.
Penting bahwa perempuan Muslim terlibat dalam kegiatan sosial dan budaya; mencoba membuat komunitas mereka lebih baik, apakah mereka berada di negara-negara Islam atau di luar negeri.
Tak hanya perempuan Muslim yang berpartisipasi
Acara ini bersifat global, dan siapa pun dapat berpartisipasi: Muslim dan non-Muslim. Bahkan acara inipun ditanggapi baik oleh para pria Muslim dengan ikut berpartisipasi mengorganisir suatu acara, mengenakan pita merah muda, dan sumbangan bagi dana.
Acara sosial yang menjembatani kesenjangan muslim dan non muslim
Kampanye PHD juga dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman orang-orang terhadap Islam dan Muslim. Pemahaman adalah langkah pertama dalam menjembatani kesenjangan antara agama. Dengan berpartisipasinya umat Islam dalam kegiatan sosial, hal tersebut dapat memberi mereka kesan yang lebih manusiawi dan bahwa umat Islam tidak hanya peduli dengan hal-hal yang tampaknya menyebabkan mereka eksklusif, seperti mungkin hanya peduli terhadap ketidakadilan di negara-negara Muslim, tapi juga krisis global. Pada akhirnya, kanker payudara dapat menyerang siapa saja tanpa memandang iman mereka.

Banjir di Arab Saudi, Ada Apakah?

www.eramuslim.com

Hujan sangat lebat dan banjir besar melanda Arab Saudi. Menurut gulfnews, 13 orang tewas dan ribuan jamaah haji terperangkap di bandara di Jeddah, Rabu kemarin (25/11).
Ada apakah dengan hal ini? Seperti diketahui, Saudi merupakan negara Arab yang panas. Jika pun terjadi hujan, itupun tak pernah besar dan hanya terjadi dalam waktu yang berjarak lama.
Banjir menggenangi semua jalanan kota Mekkah."Kami terjebak karena air dan hujan. Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja. " kata Hakan, seorang jamaah Turki dari Istanbul ketika ia menunggu bus ke Mekah.
Ini adalah curah hujan yang paling berat selama bertahun-tahun, yang tidak pernah terjadi di kerajaan Saudi, banjir memampat banyak jalan dan bangunan di Jeddah. Saat ini sekitar 1,6 juta jamaah haji datang dari berbagai pelosok dunia.
Mungkin ada baiknya kita merenungi salah satu hadist Rasulullah SAW: "Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai." (HR Muslim). Adakah hubungannya dengan hal ini? Wallohu alam bi shawwab.

Christian Science Monitor: Mereka Memilih Menjadi Mualaf Karena Merasa Damai dengan Islam


Populasi warga Muslim di Eropa cenderung meningkat dengan makin banyaknya warga Eropa yang beralih memeluk agama Islam. Christian Science Monitor (CSM) seperti dikutip Islamonline menyebutkan, meskipun tidak diketahui berapa jumlah pastinya, para pengamat yang mengamati komunitas warga Muslim di Eropa memperkirakan ada ribuan wanita dan laki-laki Eropa yang masuk Islam setiap tahunnya.
Para peneliti baik Muslim dan Non Muslim mengungkapkan, ajaran-ajaran agama Islam telah menarik minat banyak warga Eropa yang 'mencari kedamaian dalam hatinya dan bereaksi atas ketidakpastian moral di kalangan masyarakat Barat.'
Mary Fallot yang masuk Islam tiga tahun yang lalu mengatakan, "Buat saya, Islam adalah pesan cinta, toleransi dan perdamaian."
Meski demikian, para peneliti pada CSM mengakui ada mualaf yang tertarik dengan aliran Islam yang radikal, tapi jumlahnya tidak banyak. Beberapa diantaranya dihukum karena dituding melakukan aksi teroris seperti Richard Reid yang dikenal sebagai 'pelaku bom sepatu' dan John Walker Lindh, warga AS yang ditangkap di Afghanistan.
Kepala intelejen dalam negeri Perancis, Pascal Mailhos dalam wawancara dengan harian yang terbit di Paris, Le Monde sempat mengungkapkan kekhawatirannya atas fenomena itu. Namun ia menyatakan,"Kita harus menghindari untuk menyamaratakan setiap orang."
Lebih Banyak Mualaf Perempuan
Sarah Joseph, mualaf pendiri majalah Muslim Lebih lanjut CSM mengungkapkan, para pakar mengakui hasil penelitian bahwa jumlah mualaf di Eropa lebih banyak dari kaum perempuan ketimbang laki-laki. Meski demikian ada yang berpendapat bahwa hal itu terjadi akibat perkawinan dengan laki-laki Muslim.
"Hal semacam itu sudah biasa, tapi belakangan ini makin banyak kaum perempuan yang memiliki pendirian sendiri," ujar Haifa Jawad, dosen di Universitas Birmingham, Inggris. Menurutnya, banyak juga laki-laki yang masuk Islam karena menikah dengan seorang Muslimah.
Ditanya soal apakah kehidupan cintanya berkaitan dengan keputusannya memeluk Islam, Fallot yang sejak kecil beragama Katolik hanya tertawa. "Ketika saya bilang pada kolega saya di kantor bahwa saya sudah masuk Islam, reaksi pertama mereka adalah menannyakan pada saya apakah saya punya pacar orang Islam," kisah Fallot.
"Mereka tidak percaya kalau saya melakukannya atas keinginan saya sendiri," tambah Fallot. Ia menyatakan, ketertarikannya pada Islam karena Islam memerintahkan umatnya untuk selalu dekat dengan Tuhan.
Alasan-alasan seperti itulah yang menurut para ahli, menjadi fenomena bagi makin banyaknya wanita Eropa yang memilih masuk Islam. "Banyak kaum perempuan yang bereaksi atas ketidakpastian moral yang berlaku di kalangan masyarakat Barat. Mereka menyukai rasa memiliki, kepedulian dan kebersamaan yang diajarkan dalam Islam," kata Dr. Jawad.
Yang lainnya, menyukai Islam karena ide-idenya tentang masalah-masalah kewanitaan maupun kaum laki-laki yang diatur dalam"Islam memberikan penghormatan pada keluarga dan kaum perempuan, perempuan bukanlah objek seks," kata Karin van Nieuwkerk,pakar yang mempelajari tentang mualaf dari kalangan perempuan.
Sarah Joseph, mualaf sekaligus pendiri majalah gaya hidup Muslim "Emel" mengatakan, para mualaf di kalangan kaum perempuan mencari sebuah gaya hidup yang indah, jauh dari ekses-ekses feminisme Barat yang kadang tidak akurat.
Sementara itu, Profesor Stefano Allievi dari Universitas Padua Italia mengungkapkan, beberapa mualaf mengemukakan alasan politik atas keputusan mereka memeluk Islam. "Islam menawarkan semangat spiritual dalam berpolitik, menawarkan ide sebuah tatanan yang suci. Alasan ini lebih cenderung diungkapkan laki-laki dan hanya sedikit mualaf perempuan yang mengungkapkan alasan seperti ini," papar Allievi.
Masa-Masa Sensitif
Diluar alasan itu semua, CSM dalam laporannya menuliskan, para mualaf mulai menjalani kehidupannya sebagai Muslim dan Muslimah baru pelan-pelan, mengadopsi kebiasaan Islam sedikit demi sedikit. Fallot misalnya, meskipun sekarang ia sudah mengenakan pakaian yang panjang dan longgar, tapi ia belum siap mengenakan jilbab.
Batool al-Toma yang mengelola program "New Muslim" di Yayasan Islam Leicester, Inggris mengungkapkan, tahap-tahap awal seseorang yang baru masuk Islam adalah tahap yang sensitif.
"Anda tidak percaya diri dengan pengetahuan anda, anda seorang pendatang baru dan bisa saja menjadi mangsa dari berbagai orang baik secara individu maupun organisasi. Pada saat yang sama, orang yang baru masuk Islam harus meninggalkan kebiasaan hidupnya yang lama," kata Al-Toma.
"Mereka yang mencari jalan yang ekstrim untuk membuktikan keIslaman dirinya bisa menjadi mangsa empuk dan akan mudah dimanipulasi," tambah Dr. Ranstop. Ia mencontohkan Muriel Degauque, seorang mualaf asal Belgia yang melakukan bom syahid dengan menyerang pasukan AS di Irak.
Meski jumlah mualaf di kawasan Eropa makin meningkat, namunmasih banyak negara-negara Eropa yang bersikap diskriminatif dan membuat aturan ketat terhadap warga Muslim. Baru-baru ini, Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) menyampaikan keprihatinannya akan makin meningkatnya sikap tidak toleransi pemerintah Belanda terhadap warga Muslim sehingga menimbulkan 'iklim ketakutan' di kalangan warga minoritas.
Laporan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Helsinki Federation for Human Right (IHF) juga menyatakan bahwa Muslim minoritas di seluruh Eropa telah mengalami diskriminasi, dicurigai sikap permusuhan yang makin meningkat

Wednesday, November 25, 2009

Muntahar al Zaidi: Mengapa Saya Melemparkan Sepatu Kepada Bush


Muntahar Al-Zeidi, wartawan Irak yang melemparkan sepatu kepada Presiden AS George W. Bush,dibebaskan dari penjara satu pekan yang lalu. Al-Zeidi dihukum tiga tahun penjara namun hukuman itu kemudian dikurangi menjadi satu tahun. Banyak yang ingin tahu apa gerangan motif penyerangannya terhadap Bush yang kemudian menjadi kejadian bersejarah itu. Berikut penuturannya yang dikutip dari guardian.
___________________________________________________________________________
Sekarang saya bebas. Tapi negara saya masih menjadi tawanan perang. Telah ada banyak pembicaraan mengenai aksi yang saya lakukan, dan tentang pahlawan dan kepahlawanan, dan simbol dan tindakan simbolik. Tapi, sederhana saja, jawaban saya: apa yang memaksa saya untuk bertindak seperti itu adalah ketidakadilan yang menimpa rakyat saya, dan bagaimana para penjajah hanya ingin mempermalukan tanah air saya dengan menginjak-injaknya.
Selama beberapa tahun terakhir, lebih dari satu juta orang telah mati oleh peluru penjajah dan Irak sekarang dipenuhi lebih dari lima juta anak-anak yatim, jutaan janda dan ratusan ribu orang cacat. Banyak jutaan orang yang kehilangan tempat tinggal di dalam dan di luar negeri.
Kami pernah menjadi suatu bangsa di mana orang Turki dan Kurdi dan Asiria dan Sabean dan Yazid berbagi roti setiap harinya. Terlepas dari kenyataan bahwa kami berbagi rasa lapar di bawah sanksi selama lebih dari satu dekade. Kesabaran dan solidaritas kami tidak membuat kami lupa penindasan. Tapi penjajahan mencerai-beraikan kami, saudara dari saudara, tetangga dari tetangga. Mengirim rumah kita ke tenda pemakaman.
Saya bukan pahlawan. Tapi saya punya sudut pandang. Saya punya sikap. Memalukan sekali melihat negara saya begitu terhina, Baghdad dibakar, dan rakyat kami dibunuh. Ribuan peristiwa tragis berkelebat di kepala saya, mendorong saya untuk melakukan konfrontasi. Skandal Abu Ghraib. Pembantaian Fallujah, Najaf, Haditha, Sadr, Basra, Diyala, Mosul, Tal Afar, dan setiap jengkal tanah kami yang terluka. Saya berjalan di atas tanah yang terbakar dan melihat dengan mata kepala sendiri penderitaan para korban, mendengar dengan telinga saya sendiri jeritan para anak yatim dan yang berduka. Dan perasaan malu menghantui saya dengan buruk karena saya tak berdaya.
Selalu setelah saya menyelesaikan tugas profesional dalam melaporkan tragedi sehari-hari, sementara saya menghanyutkan sisa-sisa puing-puing reruntuhan rumah Irak, atau darah yang menodai pakaian, saya selalu menggeretakkan gigi dan membuat janji untuk korban kami, janji balas dendam.
Kesempatan itu datang, dan saya menerimanya.
Saya mengambilnya dari kesetiaan kepada setiap tetes darah orang tidak bersalah yang telah tertumpah melalui pekerjaan saya, setiap jeritan ibu yang berduka, setiap erangan anak yatim piatu, kesedihan dari korban pemerkosaan, atau tetesan air mata anak yatim.
Saya berkata kepada orang-orang yang mencela saya: apakah Anda tahu berapa banyak rumah yang rusak? Berapa kali sepatu-sepatu mereka telah menginjak darah korban yang tidak bersalah? Mungkin sepatu adalah respons yang tepat ketika semua nilai itu dilanggar.
Ketika saya melemparkan sepatu dalam terhadap George Bush, saya ingin menyampaikan penolakan terhadap kebohongannya, dengan penjajahan terhadap negara saya, penjarahan kekayaan negara saya, penghancur infrastrukturnya, dan pengusiran para anak laki-laki kami yang menjadi tak tentu arah.
Jika saya menyelewengkan tugas jurnalisme, saya mohon maaf. Semua yang saya lakukan hanya mengekspresikan dengan hati nurani dari perasaan seorang warga negara yang melihat tanah airnya dinodai setiap hari. Profesionalisme ditangisi di bawah naungan penjajahan yang tidak boleh memiliki suara lebih keras daripada suara patriotisme. Dan jika patriotisme perlu untuk berbicara, maka profesionalisme harus bersekutu dengan itu.
Saya tidak melakukannya supaya nama saya masuk sejarah atau untuk keuntungan materi. Yang saya inginkan adalah untuk membela negara saya.

Followers